• ?
  • 022 - 4214390
  • bec@bandungeyecenter.org

SELAMAT DATANG DI WEBSITE BANDUNG EYE CENTER     --     EYE SPECIALIST HEALTH SERVICES     --   BESTFRIEND IN EYE CARE   --  TIDAK PERLU REPOT MEMAKAI KACAMATA KAMI SOLUSINYA  --  KAMI MENYEDIAKAN APA YANG ANDA BUTUHKAN UNTUK KESEHATAN MATA ANDA

ENDOSKOPI UNTUK BEDAH VITREORETINA

 

Artikel majalh vitreoretina (Jurnal ilmiah perdami 2011)

 

 ENDOSKOPI UNTUK BEDAH VITREORETINA

Heri Purwoko

Ulasan Singkat dari Certification and Trainiing of Opthalmic Endoscopic in the Vitreo-retinal Surgery, seminar and Wetlab

APAO 2011, Sydney

 

Bagian bola mata manusia adalah misteri besar bagi ilmu pengetahuan, hingga Helmholtz menemukan funduskopi pada tahun 1851. Beberapa tahun sesudahnya, Von Creafe dapat menjelaskan kasus retinal detachment. Semenjak era tersebut perlahan namun pasti satu demi satu misteri didalam bola mata manusia kian terkuak. Namun demikian, masih banyak area yang kita sulit untuk melihatnya dengan jelas pada mata hidup; antara lain adalah procesus siliaris dan bagian paling anterior dari retina dan vitreus, termasuk sebagian  ora serrata. Procesus siliaris hanya tampak justru pada keadaan-keadana patologis; antara lain pada kasus aniridia, kolaborma dan beberapa kasus trauma.

Bedah vitreoretina telah mengalami percepatan sedemikian rupa dengan berbagai kemajuan yang dicapai mulai dari mikroskop, alat bantu visualisasi optic, hingga kemajuan dalam teknologi mesin vitrektomi. Namun demikian berbagai kasus tertentu masih menjadi tantanganbesar dan masih menyulitkan para ahli bedah vitreoretina. Hal ini beberpa diantaranya terjadi pada kasus-kasus seperti pupil kecil, pseudofakia dengan febrotik kapsul posterior, anterior detachment, neo vaskularisasi pars plana, kekeruhan kornea dan pada berbagai kekeruhan media lainnya.

Sejak sekitar tahun 1990 telah mulai berkembang teknologi endoskopi yang memungkinkan kita untuk menjawab berbagai tantangan dan kesulitan akibat kasus-kasus diatas. Ciardella dan kawan-kawan tahun 2001 telah melakukan bedah vitreoretina pada kasus-kasus prolifeeative diabetic retinopathy (PDR) dengan hifema. Pseudofakia dengan fibrotic kapsul posterior dan anterior retinal detachment. Bosher 2006 melaporkan mengerjakan lebih dari 3000 kasus meliputi trauma, hemorrhages, inflammasi, komplikasi dari bedah katarak, meliputi endosftalmitis, dislokasi nuleus dan squelae. Kasus lain yang dilaporkan telah dikerjakan antara lain complex retinal detachment, primer ataupun sekunder akibat trauma, juga dalam usaha mencegah atau memperbaiki kondisi kasus anterior PVR, yang sering terjadi akibat bedah vitreoretina. Kasus lain yang dilaporkan adalah diabetic retinopathy dengan pendarahan vitreus, juga pada kasus PDR yang disertai glaucoma neo vaskuler, dilakukan bedah vitreoretina edoskopik dikombinasi dengan Endoscopic Cyclo Photocoagulation (ECP). Pada tahun 2006 Bosher melakukan live endoscopic surgery dalam ASRS (American Society of Retinal Specialist) – EVRS (European Vitreo Retinal Specialist) joint meeting di Cannes, Perancis. Dan dewasa ini endoskopi telah menjadi procedure rutin yang dilakukan oleh lebih dari 20% ahli bedah vitreoretina di jeapang. de Smet dan Mura 2008, melaporkan keberhasilan bedah endoskopi vitreoretinal pada kasus inferior retinal detachment dan retinal detachment dengan PVR. Kawashima dkk tahun 2010 telah melaporkan bedah vitreoretina pada kasus endoftalmitis akibat trauma perforasi.

Walaupun tentu saja alat ini belum bias menggantikan alat diagnostic ataupun alat bedah yang telah ada, dewasa ini penggunaan endoskopi telah semakin berkembang dibidang glaucoma dan vitreoretina. Kemapuannya menjelajahi bagian dalam bola mata, melihat, membantu diagnosis dan membantu melakukan tindakan pembedahan telah membuat endoskopi menjadi salah satu piranti penting dalamh melengkapi alat-alat operasi bedah vitreoretina mutakhir. Keterbatasan alat ini adalah lapangan pandang yang sempit sehingga dibutuhkan ketrampilan yang lebih dari operatornya.

Selain itu juga dilaporkan menimbulkan katarak sebagai komplikasi akibat tersentuhnya lensa sewaktu operasi (sekitar 10%).

Saat ini salah satu mesin yang tersedia adalah Uram E2 Endoscopic (Endo Optiks Inc) yang berfungsi sebagai optic endoscopiy, illumination dan laser fotokoagulasi.

Mesin ini memiliki probe endoskopil 20 gauge yang dapat dimasukkan melalui pars plana menuju vitreus. Dilengkapi dengan 175 Watt Xenon Light Source dan Higt Resolution Camera System. Laser fotokoagulasi menggunakan Laser Diode dengan panjang gelombang 810 nm. Semua setting mesin dan probe telah disiapkan sedemikain rupa untuk kemudahan operasi dan akurasi serta keberhasilan operasi.

 

 

©2015 Bandung Eye Center All right reserved   Developed by javwebnet